Menurut PSAK No.1 (2012,
p. 1-2), laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan.
Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan
perubahan posisi keuangan, yang dapat disajikan dalam berbagai cara seperti,
misalnya sebagai laporan arus kas atau laporan arus dana, catatan dan laporan
lain, serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan
keuangan. Di samping itu juga termasuk skedul dan informasi tambahan yang
berkaitan dengan laporan tersebut, misalnya informasi keuangan segmen industri
dan geografis serta pengungkapan pengaruh perubahan harga. Analasis laporan keuangan
digunakan untuk membantu mengatasi kesenjangan tersebut dengan cara mengolah kembali
laporan keuangan sehingga dapat membantu para pengambil keputusan melakukan
prediksi-prediksi yang akan terjadi dengan analisis tersebut.
Tujuan
dan Manfaat Laporan Keuangan
Menurut PSAK No. 1 dalam
Ikatan Akuntan Indonesia (2009:1.2), tujuan laporan keuangan untuk tujuan umum
“Memberikan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, dan arus kas
perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam
rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban
manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka”.
Menurut Dwi Prastowo dan
Rifka Julianty (2005:5), tujuan laporan keuangan adalah sebagai berikut :
1) Menyediakan informasi
yang menyangkut posisi keuangan, kinerja dan perubahan posisi keuangan suatu
perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan
keputusan ekonomi.
2) Menyediakan informasi
mengenai posisi keuangan, kinerja dan perubahan posisi keuangan sangat
diperlukan untuk dapat melakukan evaluasi atas kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan kas (setara kas), dan waktu serta kepastian dari hasil tersebut.
3) Menyediakan informasi
kinerja perusahaan, terutama profitabilitas diperlukan untuk menilai perubahan
potensial sumberdaya ekonomi yang mungkin dikendalikan di masa depan, sehingga
dapat memprediksi kapasitas perusahaan dalam menghasilkan kas serta untuk merumuskan
efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan tambahan sumber daya.
4) Menyediakan informasi
perubahan posisi keuangan perusahaan bermanfaat untuk menilai aktivitas
investasi, pendanaan dan operasi perusahaan selama periode pelaporan.
Komponen-Komponen
Laporan Keuangan
PSAK No. 1 (2012, p. 6)
menyatakan bahwa laporan keuangan yang lengkap yang disusun oleh manajemen
suatu perusahaan harus meliputi komponen-komponen berikut ini:
1. Neraca
Menurut PSAK No. 1 (2012,
p. ) laporan posisi keuangan adalah suatu laporan yang sistematis tentang
aktiva (assets), hutang (liabilities) dan modal sendiri (owner’s equity).
Soemarso (2004, p. 34)
menjelaskan bahwa neraca merupakan laporan keuangan yang berisi mengenai jumlah
harta (assets), kewajiban (liability), dan modal (owner’s equity) pada akhir periode
akuntansi. Neraca dapat memberi informasi tentang sumber-sumber daya yang
dimiliki perusahaan dan sumber pembelanjaan untuk memperolehnya. Laporan ini
menyajikan posisi keuangan perusahaan.
2. Laporan Laba Rugi Komprehensif
Menurut PSAK No.1 (2012,
p. ) laporan laba rugi komprehensif merupakan suatu laporan sistematis yang
menyajikan seluruh pos pendapatan dan beban yang diakui dalam satu periode.
Laporan laba rugi komprehensif perusahaan disajikan sedemikian rupa yang
menggambarkan berbagai unsure kinerja keuangan selama suatu periode tertentu.
Kasmir (2011, p. 29),
mengungkapkan bahwa laporan laba rugi merupakan laporan keuangan yang
menggambarkan hasil usaha perusahaan dalam suatu periode tertentu. Laporan laba
rugi ini merupakan ringkasan yang logis dari hasil penghasilan dan biaya dari
suatu perusahaan untuk periode tertentu. Laba bersih yang dihasilkan dari
perhitungan laporan laba rugi merupakan selisih total penerimaan atas total
pengeluaran. Jika total pengeluaran lebih besar dari total penerimaan, maka
perusahaan akan melaporkan sebagai rugi bersih yang dapat mengurangi modal
awal. Begitu juga sebaliknya, jika total penerimaan perusahaan lebih besar daripada
total pengeluaran, maka perusahaan akan melaporkannya sebagai laba bersih yang
dapat menambah modal awal perusahaan.
3. Laporan Arus Kas
Menurut Baridwan (2004,
p. 40) laporan arus kas adalah laporan yang menyajikan informasi yang relevan
tentang penerimaan dan pengeluaran kas yang berasal dari kegiatan investasi,
pembelanjaan, dan kegiatan usaha pada suatu periode.
Arus kas dari aktivitas
operasi merupakan arus kas yang langsung berhubungan dengan laba, seperti
penerimaan kas dari pelanggan dan pembayaran gaji karyawan perusahaan. Arus kas
yang berasal dari aktivitas investasi mencakup arus kas yang terkait dengan
akuisisi atau penjualan aset produktif perusahaan, seperti pembelian dan
penjualan aset tetap perusahaan. Arus kas pendanaan merupakan arus kas yang
berhubungan langsung dengan pendanaan perusahaan, seperti penerimaan dan
pembayaran utang kepada investor dan kreditor.
4. Laporan Perubahan Ekuitas
Soemarso (2004, p. 54).
mengungkapkan bahwa laporan perubahan ekuitas
adalah ikhtisar tentang perubahan modal suatu perusahaan yang terjadi
selama jangka waktu tertentu. Laporan perubahan modal melaporkan bagaimana laba
bersih dan dividen mempengaruhi posisi laporan keuangan perusahaan dalam suatu
periode akuntansi. Laba bersih yang diperoleh setiap tahun akan meningkatkan
saldo laba ditahan, sedangkan pembagian dividen kepada pemegang saham akan
mengurangi saldo laba ditahan. Proses meningkat dan mengurangnya saldo laba
ditahan ini menunjukkan hubungan antara laporan laba rugi dengan neraca, di mana
saldo laba ditahan pada akhir periode akan dibawa ke saldo awal laba ditahan
pada tahun berikutnya.
5. Catatan atas Laporan Keuangan
PSAK No.1 (2012, p. 8)
menjelaskan bahwa suatu catatan atas laporan keuangan adalah catatan yang
disajikan secara sistematis untuk menghasilkan informasi dasar penyusunan
laporan keuangan dan kebijakan akuntansi yang digunakan dalam penyusunan
laporan keuangan serta memberikan informasi yang relevan untuk memahami laporan
keuangan.
Menurut Kasmir (2011, p.
31) laporan catatan atas laporan keuangan merupakan laporan yang memberikan
informasi apabila ada laporan keuangan yang memerlukan penjelasan tertentu.
Artinya terkadang ada komponen atau nilai dalam laporan keuangan yang perlu
diberi penjelasan terlebih dahulu sehingga jelas. Hal ini dilakukan agar
pihak-pihak yang berkepentingan tidak salah dalam menafsirkannya.
Keterbatasan
Analisis Laporan Keuangan
Hanafi (2009, p. 78)
mengutarakan bahwa meskipun analisis laporan keuangan sangat bermanfaat, tetapi
ada beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan, antara lain:
1. Data yang mencatat dan dilaporkan oleh
laporan keuangan mendasarkan pada harga perolehan.
2. Upaya perbaikan barangkali bisa dilakukan
oleh pihak manajemen untuk memperbaiki laporan keuangan sehingga laporan
keuangan tampak bagus.
3. Banyak perusahaan yang mempunyai beberapa
divisi atau anak perusahaan yang bergerak pada beberapa bidang usaha
(industri), yang mengakibatkan analis susah dalam memilih pembanding perusahaan
dikarenakan perusahaan tersebut bergerak pada beberapa industri.
4. Inflasi atau deflasi akan mempengaruhi
laporan keuangan terutama yang berkaitan dengan rekening-rekening jangka
panjang seperti investasi jangka panjang.
5. Rata-rata industri merupakan rata-rata
perusahaan yang ada dalam industri. Ada beberapa perusahaan yang tidak bagus
yang dipakai dalam perhitungan rata-rata industri. Perusahaan yang ingin sukses
biasanya harus berada di atas rata-rata rasio industri, bukannya sama dengan
rata-rata industri. Begitu juga sebaliknya, angka yang lebih rendah
dibandingkan rata-rata industri juga tidak selalu berarti jelek. Ada banyak hal
yang harus dipertimbangkan sebelum menentukan baik buruknya suatu angka.
Metode
dan Teknik Analisis Laporan Keuangan
S. Munawir (2007:36) mengatakan
ada dua metode yang digunakan oleh setiap penganalisis laporan keuangan, yaitu
:
a) Metode Analisa
Horizontal
Yaitu analisa dengan
mengadakan perbandingan laporan keuangan untuk beberapa periode atau beberapa
saat, sehingga akan diketahui perkembangannya.
b) Metode Analisa
Vertikal Yaitu apabila laporan keuangan yang dianalisa hanya meliputi satu
periode atau satu saat saja, yaitu dengan memperbandingkan antara pos yang satu
dengan pos yang lainnya dalam laporan keuangan tersebut, sehingga hanya akan
diketahui keadaan keuangan atau hasil operasi pada saat itu saja.
Sedangkan teknik analisis
yang biasa digunakan dalam analisis laporan keuangan adalah sebagai berikut :
1) Analisa Perbandingan
Laporan Keuangan, adalah metode dan teknik analisa dengan cara memperbandingkan
laporan keuangan untuk dua periode atau lebih.
2) Trend atau tendesi
posisi dan kemajuan keuangan perusahaan yang dinyatakan dalam prosentase adalah
suatu metode atau teknik analisa untuk mengetahui tendensi daripada keadaan
keuangannya, apakah menunjukkan tendensi tetap, naik atau bahkan turun.
3) Laporan dengan
prosentase per komponen atau common size statement adalah satu metode analisa
untuk mengetahui prosentase investasi pada masing-masing aktiva terhadap total
aktivanya, juga untuk mengetahui struktur permodalannya dan komposisi
perongkosannya yang terjadi dihubungkan dengan jumlah penjualannya.
4) Analisa Sumber dan
Penggunaan Modal Kerja adalah suatu analisa untuk mengetahui sumber-sumber
serta penggunaan modal kerja atau untuk mengetahui sebab-sebab berubahnya modal
kerjan dalam periode tertentu.
5) Analisa Sumber dan
Penggunaan Kas adalah suatu analisa untuk mengetahui sebab-sebab berubahnya
jumlah uang kas atau untuk mengetahui sumber-sumber serta penggunaan kas selama
periode tertentu.
6) Analisa ratio adalah
suatu metode analisa untuk mengetahui hubungan dari pos-pos tertentu dalam
neraca atau laporan rugi laba secara individu atau kombinasi dari kedua laporan
tersebut.
7) Analisa Perubahan Laba
Kotor adalah suatu analisa untuk mengetahui sebab-sebab perubahan laba kotor
suatu perusahaan dari periode ke periode yang lain atau perubahan laba kotor
suatu periode dengan laba yang dibudgetkan untuk periode tersebut.
8) Analisa Break Even adalah suatu analisa untuk
menentukan tingkat penjualan yang harus dicapai oleh suatu perusahaan tersebur
tidak menderita kerugian, tetapi juga belum memperoleh keuntungan.
Contoh
Kasus
Berikut adalah contoh
Analisa Likuiditas, Solvabilitas, dan Rentabilitas Laporan Keuangan “PT. GUDANG
GARAM Tbk.”
1. LIKUIDITAS PERUSAHAAN
a. Current Ratio
Current Ratio = (Aktiva
Lancar/Kewajiban Lancar) x 100%
Tahun 2008
Current Ratio =
(17.955.845/9.437.259) x 100% = 1,9%
Tahun 2007
Current Ratio = (Rp.
15.027.032/) x 100% = 1,95%
b. Quick Ratio/Acid Test Ratio
Quick Ratio = ((Aktiva
Lancar – Persediaan)/Kewajiban Lancar)) x 100%
Tahun 2008
Quick Ratio =
((Rp.17.955.845-Rp.14.016.039)/ Rp.9.437.259)) x 100% = 0,41%
Tahun 2007
Quick Ratio =
((Rp.15.027.032-Rp. 11.877.086)/ Rp.7.697.918)) x 100% = 0,40%
c. Cash Ratio
Cash Ratio =
(Kas/Kewajiban Lancar) x 100%
Tahun 2008
Cash Ratio = (Rp.
411.689/ Rp.9.437.259) x 100% = 0,043%
Tahun 2007
Cash Ratio = (Rp.
289.152/ Rp. 7.697.918) x 100% = 0,037%
2. PERPUTARAN PIUTANG
Cara perhitungan
perputaran piutang dapat dilakukan dengan rumus :
Perputaran Piutang =
(Penjualan Kredit/Utang Usaha) x 100%
Tahun 2008
Perputaran Piutang =
(Rp.15.056.347/ Rp.200.266) x 100% = 75,1%
Tahun 2007
Perputaran Piutang =
(Rp.13.419.733/ Rp. 128.837) x 100% =
104,1%
3. SOLVABILITAS PERUSAHAAN
Tingkat solvabilitas
diukur dengan beberapa rasio,
yaitu :
a. Total Debt to Equity Ratio
Total Debt Equty Ratio =
(Total Utang/Ekuitas) x 100%
Tahun 2008
Perputaran Piutang =
(Rp.10.359.076/ Rp.14.530.132) x 100% = 0,71%
Tahun 2007
Perputaran Piutang =
(Rp.8.474.564/ Rp.13.386.776) x 100% = 0,63%
b. Total Debt to Asset Ratio
Total Debt to Asset Ratio
= (Total Utang/Total Aktiva) x 100%
Tahun 2008
Total Debt to Asset Ratio
= (Rp.10.359.076/ Rp.20.904.022) x 100% = 0,49%
Tahun 2007
Total Debt to Asset Ratio
= (Rp.8.474.564/ Rp.21.878.013) x 100% = 0,38%
4. RENTABILITAS PERUSAHAAN
Adapun cara penilaian Rentabilitas
adalah :
a. Gross Provit Margin (Margin Laba Kotor)
Rumus :
GPM = (Laba
Kotor/Penjualan Bersih) x 100%
Tahun 2008
GPM = (Rp.2.427.250/
Rp.15.056.347) x 100% = 0,16%
Tahun 2007
GPM = (Rp.2.485.648/
Rp.13.419.733) x 100% = 0,18%
b. Net Profit Margin (Margin Laba Besih)
Rumus :
NPM = (Laba Setelah
Pajak/Total Aktiva) x 100%
Tahun 2008
NPM = (Rp.891.358/ Rp.24.904.022)
x 100% = 0,035%
Tahun 2007
NPM = (Rp.710.565/
Rp.21.878.013) x 100% = 0,032%
c. Earning Power of Total Investment
Rumus :
EPTI = (Laba Sebelum
Pajak/Ekuitas) x 100%
Tahun 2008
EPTI = (Rp.1.313.392/
Rp.14.530.132) x 100% = 0,09%
Tahun 2007
EPTI = (Rp.1.084.495/
Rp.13.386.776) x 100% = 0,08%
d. Return On Equity (Pengembalian Atas
Equitas)
Rumus :
ROE = (Laba Setelah
Pajak/Ekuitas) x 100%
Tahun 2008
ROE = (Rp. 891.358/Rp.
14.530.132) x 100% = 0,61%
Tahun 2007
ROE = (Rp.710.565/
Rp.13.386.776) x 100% = 0,3%
Sumber
https://www.scribd.com/doc/286335663/Analisis-Laporan-Keuangan
http://dewiasmaranii.blogspot.co.id/2014/12/analisis-laporan-keuangan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar