JOKO WIDODO
Nama Joko
Widodo, yang cukup populer dengan panggilan Jokowi, adalah sebuah fenomena.
Sosoknya yang sederhana, menerobos protokoler khas mewakili rakyat murni,
sebagaimana tercermin dari kondisi keluarga Notomiharjo dan Sujiatmi, kedua
orangtua Jokowi, yang pernah tinggal lama di bantaran sungai Kalianyar, di
pinggiran Kota Surakarta setelah rumah orang tuanya digusur, demi pembangunan
terminal yang diselenggarakan Pemerintah Kota Surakarta beberapa puluh tahun
silam.
Jokowi adalah
sosok pemimpin yang mengedepankan egalitarian, yang relatif serius bekerja
membangun daerahnya. Selama menjadi Walikota Surakarta, ia bias mengantisipasi
terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme. Jokowi berusaha mengedepankan sikap
dan pola hidup penuh kesederhanaan. Di ujung masa kepemimpinannya, Jokowi
meraih beberapa penghargaan, antara lain; predikat Walikota terbaik pada 2009,
penghargaan Bung Hatta Award sebagai bukti komitmennya pada gerakan dan sikap
hidup antikorpusi, penghargaan dari Universitas Negeri Surakarta (UNS) Award
serta terpilih sebagai 10 Tokoh Pilihan pada 2008.
Dunia masa
kecil Jokowi adalah dunia yang keras. Orang harus disiplin dan bekerja keras
untuk bias survive hingga hidup layak. Orang tua Jokowi mengajarkan kecintaan,
kedisiplinan dan konsistensi pada pekerjaannya sebagai tukang kayu. Tiga aspek
itulah yang lantas tertanam dalam jiwa Jokowi sehingga ia pun kelak menemukan
jalan hidup dan mewarisi profesi sang ayah sebagai tukang kayu. Jokowi tumbuh
sebagai anak dengan jiwa polos, sederhana, ‘nrima ing pandum’ atau sikap
menerima apa adanya pemberian orang tua sebagai rezeki Tuhan.
Jokowi
dilahirkan dari keluarga kelas bawah. Namun kedua orang tuanya mampu ‘mencetak’
atau menjadikan Jokowi sekelas ‘anak sapi’. Dan, juga, PDI Perjuangan sebagai
partai ‘wong cilik’ atau partainya kaum semut ireng, mampu melahirkan seorang
pemimpin dari kelas bawah, yakni Jokowi itu sendiri. Ini seperti isyarat yang
pernah diciptakan oleh pujanggga dari Surakarta Hadiningrat pada masa silam.
Pengambilan
angle entrepreneurship kiranya akan merangsang tumbuhnya inspirasi baru dari
pemaknaan kita terhadap eksistensi Jokowi. Seiring wacana yang mengemuka
akhir-akhir ini tentang kesadaran masyarakat untuk menekuni bidang
kewirausahaan yang semakin tumbuh dan berkembang demikian pesat. Kewirausahaan
menjadi sebuah alternatif bidang usaha yang mampu menghantarkan pelaku
wirausaha atau entrepreneur menikmati keberhasilan dan hidup dalam kemandirian.
Bahkan seorang entrepreneur yang sukses akan mampu melibatkan tenaga kerja muda
baru, yang berarti mampu menciptakan lapangan kerja dan membantu pemerintah
menyediakan lapangan kerja alternatif.
Dunia
entrepreneurship adalah dunia yang penuh dengan dinamika. Hukum pasti dalam
kewirausahaan adalah dinamika hidup itu sendiri. Seorang entrepreneur dituntut
selalu dinamis dengan kemampuan memprediksi kemungkinan-kemungkinan di masa
mendatang. Ia juga harus memiliki banyak ide, imajinasi, kreatif, dll. Jokowi,
dalam hal ini, sudah memenuhi persiapan dan persyaratan menjadi entrepreneur,
yang meliputi; pendidikan, regulasi, sumber daya manusia serta pembiayaan.
Sehingga, pada akhirnya, kewirausahaan bukan hanya kemampuan membuka usaha
mandiri, tapi juga mentalitas, pola pikir, dan perubahan perspektif sosial
budaya.
Jiwa
kewirausahaan Jokowi juga tercermin dalam sikapnya pada penemuan ide baru dan
terobosan-terobosan alternatif. Hal tersebut juga ia terapkan dalam
kepemimpinannya sebagai Walikota Surakarta. Intuisi Jokowi sebagai entrepreneur
memang tajam. Ia tidak begitu saja langsung mewujudkan impiannya untuk terjun
dalam dunia tukang kayu. Ia melalui proses panjang. Dimulai sebagai karyawan di
PT Kertas Kraft Aceh di Aceh sambil belajar mengelola perkayuan selepas lulus
dari Fakultas Kehutanan UGM pada 1985 .
Perihal
kepemimpinan, kita perlu belajar dari Jokowi. Bagaimana ia mampu merumuskan
konsep kepemimpinan dan mengaplikasikannya. Sebagai Walikota, Jokowi mampu
menempatkan dirinya sebagai pelayan warga kota ketimbang penguasa. Sebagai
pemimpin, Jokowi tidak pernah mengedepankan dirinya sebagai bos, melainkan
setara dengan anak buahnya, karena ia lebih memprioritaskan segi-segi
kemanusiaan dalam etika kerja sehari-hari. Semoga kehadiran Jokowi sebagai
gubernur DKI Jakarta dan presiden RI 2014-2015 benar-benar bisa menjadi inspirasi
untuk kehidupan yang lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar