Selasa, 04 November 2014

TOKOH

JOKO WIDODO
            Nama Joko Widodo, yang cukup populer dengan panggilan Jokowi, adalah sebuah fenomena. Sosoknya yang sederhana, menerobos protokoler khas mewakili rakyat murni, sebagaimana tercermin dari kondisi keluarga Notomiharjo dan Sujiatmi, kedua orangtua Jokowi, yang pernah tinggal lama di bantaran sungai Kalianyar, di pinggiran Kota Surakarta setelah rumah orang tuanya digusur, demi pembangunan terminal yang diselenggarakan Pemerintah Kota Surakarta beberapa puluh tahun silam.

            Jokowi adalah sosok pemimpin yang mengedepankan egalitarian, yang relatif serius bekerja membangun daerahnya. Selama menjadi Walikota Surakarta, ia bias mengantisipasi terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme. Jokowi berusaha mengedepankan sikap dan pola hidup penuh kesederhanaan. Di ujung masa kepemimpinannya, Jokowi meraih beberapa penghargaan, antara lain; predikat Walikota terbaik pada 2009, penghargaan Bung Hatta Award sebagai bukti komitmennya pada gerakan dan sikap hidup antikorpusi, penghargaan dari Universitas Negeri Surakarta (UNS) Award serta terpilih sebagai 10 Tokoh Pilihan pada 2008.
            
             Dunia masa kecil Jokowi adalah dunia yang keras. Orang harus disiplin dan bekerja keras untuk bias survive hingga hidup layak. Orang tua Jokowi mengajarkan kecintaan, kedisiplinan dan konsistensi pada pekerjaannya sebagai tukang kayu. Tiga aspek itulah yang lantas tertanam dalam jiwa Jokowi sehingga ia pun kelak menemukan jalan hidup dan mewarisi profesi sang ayah sebagai tukang kayu. Jokowi tumbuh sebagai anak dengan jiwa polos, sederhana, ‘nrima ing pandum’ atau sikap menerima apa adanya pemberian orang tua sebagai rezeki Tuhan.
            
              Jokowi dilahirkan dari keluarga kelas bawah. Namun kedua orang tuanya mampu ‘mencetak’ atau menjadikan Jokowi sekelas ‘anak sapi’. Dan, juga, PDI Perjuangan sebagai partai ‘wong cilik’ atau partainya kaum semut ireng, mampu melahirkan seorang pemimpin dari kelas bawah, yakni Jokowi itu sendiri. Ini seperti isyarat yang pernah diciptakan oleh pujanggga dari Surakarta Hadiningrat pada masa silam.
            
             Pengambilan angle entrepreneurship kiranya akan merangsang tumbuhnya inspirasi baru dari pemaknaan kita terhadap eksistensi Jokowi. Seiring wacana yang mengemuka akhir-akhir ini tentang kesadaran masyarakat untuk menekuni bidang kewirausahaan yang semakin tumbuh dan berkembang demikian pesat. Kewirausahaan menjadi sebuah alternatif bidang usaha yang mampu menghantarkan pelaku wirausaha atau entrepreneur menikmati keberhasilan dan hidup dalam kemandirian. Bahkan seorang entrepreneur yang sukses akan mampu melibatkan tenaga kerja muda baru, yang berarti mampu menciptakan lapangan kerja dan membantu pemerintah menyediakan lapangan kerja alternatif.

            Dunia entrepreneurship adalah dunia yang penuh dengan dinamika. Hukum pasti dalam kewirausahaan adalah dinamika hidup itu sendiri. Seorang entrepreneur dituntut selalu dinamis dengan kemampuan memprediksi kemungkinan-kemungkinan di masa mendatang. Ia juga harus memiliki banyak ide, imajinasi, kreatif, dll. Jokowi, dalam hal ini, sudah memenuhi persiapan dan persyaratan menjadi entrepreneur, yang meliputi; pendidikan, regulasi, sumber daya manusia serta pembiayaan. Sehingga, pada akhirnya, kewirausahaan bukan hanya kemampuan membuka usaha mandiri, tapi juga mentalitas, pola pikir, dan perubahan perspektif sosial budaya.
            
             Jiwa kewirausahaan Jokowi juga tercermin dalam sikapnya pada penemuan ide baru dan terobosan-terobosan alternatif. Hal tersebut juga ia terapkan dalam kepemimpinannya sebagai Walikota Surakarta. Intuisi Jokowi sebagai entrepreneur memang tajam. Ia tidak begitu saja langsung mewujudkan impiannya untuk terjun dalam dunia tukang kayu. Ia melalui proses panjang. Dimulai sebagai karyawan di PT Kertas Kraft Aceh di Aceh sambil belajar mengelola perkayuan selepas lulus dari Fakultas Kehutanan UGM pada 1985 .


            Perihal kepemimpinan, kita perlu belajar dari Jokowi. Bagaimana ia mampu merumuskan konsep kepemimpinan dan mengaplikasikannya. Sebagai Walikota, Jokowi mampu menempatkan dirinya sebagai pelayan warga kota ketimbang penguasa. Sebagai pemimpin, Jokowi tidak pernah mengedepankan dirinya sebagai bos, melainkan setara dengan anak buahnya, karena ia lebih memprioritaskan segi-segi kemanusiaan dalam etika kerja sehari-hari. Semoga kehadiran Jokowi sebagai gubernur DKI Jakarta dan presiden RI 2014-2015 benar-benar bisa menjadi inspirasi untuk kehidupan yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar