Senin, 27 Juni 2016

ANALISIS INVESTASI MODAL

Investasi modal digunakan untuk menjelaskan rencana manajer untuk mengeluarkan dana dalam jumlah besar untuk membiayai proyek-proyek yang memilliki implikasi jangka panjang.Investasi tidak hanya mencakup penanaman dana, tetapi pembelian barang dagangan danperalatan merupakan investasi. Keputusan investasi modal (capital investment decisions) berkaitan dengan proses perencanaan, penetapan tujuan, dan prioritas, pengaturan pendanaan, dan penggunaan kriteria tertentu untuk memilih aktiva jangka panjang.

Karena keputusan investasi modal menempatkan sebagian sumber daya perusahaan pada resiko, sehingga keputusan investasi modal adalah keputusan yang amat penting yang diambil oleh para manajer. Proses pengambilan keputusan investasi modal sering kali desebut sebagai penganggaran modal (capital budgeting). Jenis dari pengaggaran modal itu sendiri ada dua, yaitu;
a. Proyek Independen (Independent project)
Adalah proyek investasi modal yang tidak berkaitan satu dengan yang lainnya. Jadiapabila ada proyek yang diterima atau ditolak tidak akan berpengaruh terhadap protekyang lainnya.
b. Proyek Saling Eksklusif (Mutualy exclusive project)
Proyek ini mengharuskan perusahaan untuk memilih salah satu alternatif yang salingbersaing untuk menyediakan jasa dasar yang sama. Penerimaan salah satu protek akan menghalangi proyek lainnya.

Jenis Keputusan Investasi Modal
Jenis-jenis keputusan investasi modal adalah:
1. Keputusan pengurangan biaya
2. Keputusan pelunasan pabrik dan fasilitas penggudangan
3. Keputusan pemilihan mesin
4. Keputusan untuk membeli atau menyewa
5. Keputusan penggantian peralatan

Keputusan investasi modal dapat dibagi menjadi 2 kelompok:
1. Keputusan penyaringan (Screening decision), adalah jenis keputusan yang berkaitan dengan apakah usulan proyek investasi memenuhi standar yang telah ditetapkan sebelumnya.
2. Keputusan pemilihan (Preference decision), adalah jenis keputusan yang berkaitan dengan pemilihan beberapa alternatif usulan proyek investasi.

Arus Kas
Jenis-jenis arus kas, antara lain:
 1. Arus kas keluar, merupakan investasi awal (termasuk biaya instalasi), kenaikan modal kerja, reparasi dan pemeliharaan, dan kenaikkan biaya operasi.
2. Arus kas masuk, merupakan kenaikkan pendapatan, penurunan biaya, nilai sisa/residu, dan pembebasan modal kerja.
Alasan utama analisis menekankan pada arus kas adalah bahwa laba akuntansi dihitung berdasarkan konsep accrual yang mengabaikan timing arus masuk dan arus keluar kas. Meskipun informasi laba bersih sangat bermanfaat bagi keperluan lain, informasi laba bersih tidak digunakan dalam analisis pendiskontoan arus kas. Dengan demikian, manajer dapat mengabaikan informasi laba bersih dan lebih berkonsetrasi pada upaya mengidentifikasi aruskas yang berhubungan dengan sebuah proyek investasi.

Nilai Waktu Uang
Dalam pembuatan keputusan investasi modal, perlu digunakan teknik atau pendekatan yang mengakui nilai waktu uang. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa nilai satu rupiah pada hari ini lebih besar dibanding dengan nilai satu rupiah pada tahun yang akan datang. Kondisi ini juga berlaku dalam pemilihan alternative proyek investasi.Teknik investasi modal yang mengakui kedua karakteristik investasi bisnis adalah teknik yang melibatkan arus kas yang didiskontokan (discounted cashflow), yaitu arus kas yang dinilai kembali menurut kesetaraan waktu. Dengan penilaian kembali tesebut, angka-angka rupiah dapat diperbandingkan satu sama lain dan perusahaan dapat pula mengetahui apakah sebuahusulan proyek investasi memenuhi standar (criteria) minimum yang telah ditetapkan atau tidak.

Metode Pendekatan Analisis
Terdapat dua model pendekatan analisis investasi, yaitu:
1. Model non-diskonto (non-discounting models)
Metode analisis yang mengabaikan nilai waktu dari uang.
2. Model diskonto (discounting models)
Model analisis dengan pertimbangan secara eksplisit.

Model Non-Diskonto (non-discounting models)
1. Metode Payback Periods
Periode pengembalian investasi adalah waktu yang diberikan oleh sebuah proyek investasi untuk menutup investasi mula-mula dengan penerimaan kas yang dihasilkan oleh investasi tersebut. Metode periode pengembalian investasi memusatkan perhatiannya pada rentang waktu tersebut. Anggapan dasar metode ini adalah semakin cepat waktu yang diperlukan oleh sebuah proyek investasi untuk menutup investasi awal, semakin baik proyek investasi tersebut. Apabila arus kas dari suatu proyek diasumsikan tetap jumlahnya, maka rumus berikut dapat digunakan:


Akan tetapi, jika arus kas tidak tetap jumlahnya maka perioda pengembalian dihitung dengan menambahkan arus kas tahunan sampai waktu ketika investasi awal diperoleh kembali. Kelebihan metode periode kembalian investasi:
> Mengontrol resiko yang terkait pada ketidakpastian arus kas masa mendatang
> Meminimalkan dampak dari suatu investasi terhadap masalah likuiditas perusahaan
> Mengontrol resiko keuangan
> Mengontrol dampak dari suatu investasi terhadap ukuran kemampuan perusahaan
Namun, penggunaan payback periods kurang dapat dipertahankan karena ukuran ini memiliki dua kelemahan utama, yaitu;
a. Mengabaikan kinerja investasi yang melewati perioda pengembalian
b. Mengabaikan nilai waktu uang.

Contoh:
Honley medical melakukan investasi pada generator RV seharga $1.000.000. arus kasnya(arus kas masukan dikurangi arus kas keluar) yang dihasilkan peralatan tersebut adalah$500.000/tahun.
Periode pengembalian = 1.000.000 / 500.000
= 2 tahun


2. Metode Accounting Rate of Return/ARR
Adalah metode penilaian investasi yang berusaha menunjukkan ratio atau perbandingan antara keuntungan neto tahunan terhadap nilai investasi yang diperlukan untuk memperoleh laba/keuntungan tersebut baik diperhitungkan dengan nilai investasi (initial investment ) atau rata-rata investasi ( average investment ). 

Model Diskonto (discounting models)
1. Metode Net Present Value/NPV
Dengan metode NPV, penilaian sebuah usulan investasi dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:
> Seluruh arus kas masuk yang dijanjikan oleh sebuah proyek investasi dinilai tunaikan.
> Seluruh arus kas keluar selama umur proyek juga dinilai tunaikan.
> Nilai tunai arus kas masuk dijumlahkan dan nilai tunai arus kas keluar jugadijumlahkan.
> Bandingkan nilai uang tunai arus kas masuk dan jumlah nilai tunai arus kas keluar.
Selisih antara kedua angka disebut dengan net present value. Angka ini digunakan untuk membuat keputusan menerima atau menolak sebuah usulan investasi. Mengapa analisis menekankan pada arus kas? Alasan utamanya adalah bahwa laba akuntansi dihitung berdasarkan konsep accrual yang mengabaikan timing arus masuk dan arus keluar kas. Meskipun informasi laba bersih sangat bermanfaat bagi keperluan lain, namun informasi laba bersih tidak digunakan dalam analisis pendiskontoan arus kas. Dengan demikian, manajer dapat mengabaikan informasi laba bersih dan lebih berkonsetrasi pada upaya mengidentifikasi arus kas yang berhubungandengan sebuah proyek investasi.
Dimana:
I = nilai sekarang dari biaya proyek,
CFt = arus kas masuk yang diterima dalam periode t, dengan t=1…n,
N = umur manfaat proyek,
i = tingkat pengembalian yang diminta,
t = periode waktu,
P = nilai sekarang dari arus kas masuk proyek di masa depan,
dft = 1/(1+i)t, faktor diskonto

2. Metode Internal Rate of Return/IRR
The time-adjusted rate of return (TARR) atau internal rate of return (IRR) adalah tingkatbunga yang dijanjikan oleh sebuah proyek investasi selama umur proyek tersebut. Tingkat bunga ini sering disebut dengan hasil (yield) sebuah proyek investasi. IRR dihitung dengan mencari tingkat bunga yang menyamakan nilai tunai arus kas keluar dan nilai tunai arus kas masuk sebuah proyek. Dengan kata lain, IRR adalah tingkat bunga yang menghasilkan angkaNPV sama dengan nol. Jadi IRR merupakan true interest yield yang dijanjikan oleh sebuah proyek investasi.
Jika NPV < 0,berarti hasil investasi < tingkat pengembalian yang diminta. (ditolak)

Metode Internal Rate of Return/IRR
The time-adjusted rate of return (TARR) atau internal rate of return (IRR) adalah tingkatbunga yang dijanjikan oleh sebuah proyek investasi selama umur proyek tersebut. Tingkatbunga ini sering disebut dengan hasil (yield) sebuah proyek investasi. IRR dihitung dengan mencari tingkat bunga yang menyamakan nilai tunai arus kas keluar dan nilai tunai arus kas masuk sebuah proyek. Dengan kata lain, IRR adalah tingkat bunga yang menghasilkan angkaNPV sama dengan nol. Jadi IRR merupakan true interest yield yang dijanjikan oleh sebuah proyek investasi.
Syarat Keputusan IRR:
> IRR > Modal Kerja (proyek dapat diterima)
> IRR = Modal Kerja (terima/tolak sama-sama seimbang)
> IRR < Modal Kerja (proyek tidak dapat diterima)
Contoh:
Honley Medical is considering investing $1,200,000 in a new ultrasound system product.Net annual cash inflows of $499,500 will occur for 3 years. Should Honley invest in thenew product?
IRR = Investment ÷ Annual cash flows= $1,200,000 / $499,500= 2.402 (12%)

Perbandingan Antara Metode NPV dan IRR
1. Metode NPV lebih mudah digunakan2. Asumsi yang dibangun dalam metode IRR memunculkan pertanyaan.Yang menyebabkan perbedaan antara metode NPV dengan metode IRR adalah
(1) metode NPV menganggap bahwa arus masuk kas akan diinvestasikan kembali padatingakat kembalian tertentu, sedangkan metode IRR tingkat kembaliannya samadengan IRR,
(2) NPV mengukur kemampulabaan dalam angka absolute, sedangkan IRR mengukurnyadalam angka relative (%).
(3) Memilih proyek: NPV konsisten dengan memaksimalkan kekayaan pemegang sahamsementara IRR tidak selalu memberikan hasil yang akan memaksimalkan kekayaan.
Proses Memilih Proyek Terbaik
> Menilai pola arus kas untuk setiap proyek
> Hitung NPV untuk setiap proyek
> Mengidentifikasi proyek dengan NPV terbesar

Capital Rationing
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam melakukan kajian dan pemilihan proyek-proyek dengan kendala dana untuk menghasilkan nilai maksimum bagi perusahaan disebut capital rationing, yaitu merupakan pendekatan dalam pemilihan berbagai alternative proyek investasi apabila perusahaan memiliki dana terbatas. Dalam pendekatan ini,nilai perusahaan dimaksimumkan dengan memilih kombinasi proyek yang merayap dana yang tersedia dan memaksimumkan jumlah NPV.

Proyek Independen dan Investasi Parsial
Untuk memilih proyek investasi yang memaksimumkan jumlah NPV dapat digunakan indeks NPV apabila 2 kondisi ini terpenuhi, yaitu:
1. proyek investasi yang dianalisis bukan proyek yang saling meniadakan (mutuallyexclusive), dan
2. dimungkinkan investasi parsial. Indeks NPV dapat dihitung dengan membagi NPVdengan investasi awal.

Investasi yang dapat dipecah (divisible investment), artinya investasi dapat dilakukan untuk sebagian saja, sedangkan investasi yang tidak dapat dipecah (indivisible investment), artinya nilai investasinya harus 100%.Jika dana yang dimiliki oleh perusahaan tidak terbatas jumlahnya, maka proyek yang menghasilkan NPV tertinggilah yang akan dipilih dari proyek-proyek yang saling meniadakan. Namun jika dana yang tersedia terbatas, maka criteria NPV tidak dapat lagi digunakan karena pemilihan beberapa proyek akan mempengaruhi ketersediaan dana untuk proyek-proyek lainnya.

Postaudit Terhadap Proyek Investasi Terpilih
Postaudit sebuah proyek investasi yang terpilih merupakan tindak lanjut setelah sebuah usulan proyek investasi dipilih dan diterapkan. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah kinerja proyek investasi yang diharapkan benar-benar dapat dicapai, selain itu untuk menilai apakah data dan informasi yang digunakan sebagai bahan pertimbangan membuat keputusan mau memilih alternatif proyek investasi cukup akurat dan menggambarkan kondisi sesungguhnya.
Peran dan Nilai Postaudit:
• Post audit mengevaluasi kinerja aktual proyek dalam hubungannya dengan kinerja yang diharapkan.
• Post audit dapat menghasilkan tindakan korektif untuk memperbaiki kinerja proyek atau meninggalkannya

Perhitungan dan Penyesuaian Arus Kas
Perhitungan arus kas merupakan langkah kritis dalam proses investasi modal.Kesalahan estimasi arus kas berarti kesalahan keputusan investasi. Langkah untuk menghitung arus kas:
> Peramalan pendapatan, beban, dan pengeluaran modal
> Penyesuaian arus kas kotor terhadap inflasi dan pajak

Penyesuaian Peramalan untuk Inflasi
Pasar keuangan bereaksi terhadap kenaikan biaya modal untuk mencerminkan inflasi.Biaya modal terdiri dari unsur tingkat rill dan unsur inflasi (investor meminta kompensasi atas hilangnya daya beli dollar atau mata uang local). Ketika investasi akan diputuskan, tampak bahwa terjadi kegagalan investasi bila unsurinflasi tidak diikutsertakan. Namun, ketika unsur inflasi diikutsertakan malah menunjukkan bahwa investasi yang akan dilaksanakan memberikan keuntungan positif. Jadi, keputusan investasi tanpa penyesuaian arus kas terhadap inflasi akan menghasilkan keputusan yang salah.

Penyesuaian Arus Kas Setelah Pajak
Penyesuaian arus kas kotor karena pengaruh pajak dibedakan:
> arus kas keluar awal yang diperlukan untuk mendapatkan aktiva, disebut aruskas keluar.
> arus kas masuk yang dihasilkan selama pelaksanaan pekerjaan, disebut arus kas bersih.
Arus kas bersih meliputi provisi untuk pendapatan, beban operasional, penyusutan dan implikasi pajak yang relevan.






Sumber:
https://id.scribd.com/doc/141404431/Makalah-Keputusan-Investasi-Modal

Sabtu, 30 April 2016

TULISAN ANALISIS SUMBER PENGGUNAAN MODAL KERJA DAN BREAK EVENT POINT

Sumber dan Penggunaan Modal Kerja
Modal kerja didefinisikan sebagai modal yang digunakan untuk membiayai oprasional perusahaan sehari-hari, terutama yang memiliki jangka waktu pendek. Modal kerja juga diartikan seluruh aktiva lancar yang dimiliki suatu perusahaan atau setelah aktiva lancar dikurangi dengan utang lancar. Modal kerja yang diartikan seluruh aktiva lancar dikurangi dengan utang lancar dinamakan modal kerja bersih. Sedangkan manajemen modal kerja merupakan suatu pengelolaan investasi perusahaan dalam aset jangka pendek.  Artinya bagaimana mengelola investasi dalam aktiva lancar perusahaan. Manajemen modal kerja melibatkan sebagian besar jumlah asset perusahaan. Bahkan terkadang bagi perusahaan tertentu jumlah aktiva lancar lebih dari setengah jumlah investasinya tertanam di dalam perusahaan.
Secara umum dikatakan bahwa penggunaan modal kerja biasa dilakukan perusahaan untuk:
1.      Pengeluaran untuk gaji, upah, dan biaya oprasi perusahaan.
2.      Pengeluaran untuk membeli bahan baku atau barang dagangan.
3.      Untuk menutupi kerugian akibat penjualansurat berharga.
4.      Pembelian aktiva tetap(tanah, bangunan, kendaraan, mesin dan lain-lain)
5.      Pembayaran utang jangka panjang
6.      Pengambilan uang atau barang untuk kepentingan pribadi.
Salah satu alat ukur untuk menentukan keberhasilan dan keefektifan manajemen modal kerja adalah diukur dari perputaran modal kerjanya atau working capital turnover-nya. Artinya seberapa banyak modal kerja berputar selama suatu periode atau dalam beberapa periode. Untuk mengukur perputaran modal kerja adalah dengan cara membandingakan antara penjualan  dengan modal kerja. Pengukuran ini sebaiknya dengan menggunakan dua periode atau lebih sebagai pembanding, sehingga memudahkan kita untuk menilainya.

BREAK EVENT POINT
Break Even Point (BEP) dapat diartikan sebagai suatu titik atau keadaan dimana perusahaan di dalam operasinya tidak memperoleh keuntungan dan tidak menderita kerugian. Tujuan dari analisis break even point yaitu untuk mengetahui pada volume penjualan atau produksi berapakah suatu perusahaan akan mencapai laba tertentu. BEP amatlah penting kalau kita membuat usaha agar kita tidak mengalami kerugian, apa itu usaha jasa atau manufaktur, diantara manfaat BEP  adalah:
a) Alat perencanaan untuk hasilkan laba
b) Memberikan informasi mengenai berbagai tingkat volume penjualan
c) Mengevaluasi laba dari perusahaan secara keseluruhan
d) Mengganti system laporan yang tebal dengan grafik yang mudah dibaca dan dimengerti

Biaya  berdasarkan analisis break event point
Biaya yang dikeluarkan perusahaan dapat dibedakan sebagai berikut:
a)    Variabel Cost (biaya Variabel)
Variabel Cost merupakan jenis biaya yang selalu berubah sesuai dengan perubahan volume penjualan, dimana perubahannya tercermin dalam biaya variabel total. Dalam pengertian ini biaya variabel dapat dihitung berdasarkan persentase tertentu dari penjualan, atau variabel cost per unit dikalikan dengan penjualan dalam unit.
b)   Fixed Cost (biaya tetap)
Fixed Cost merupakan jenis biaya yang selalu tetap dan tidak terpengaruh oleh volume penjualan melainkan dihubungkan dengan waktu (function of time) sehingga jenis biaya ini akan konstan selama periode tertentu. Contoh biaya sewa, depresiasi, bunga. Berproduksi atau tidaknya perusahaan biaya ini tetap dikeluarkan.
c)    Semi Varibel Cost

Semi Variabel Cost merupakan jenis biaya yang sebagian variabel dan sebagian tetap, yang kadang-kadang disebut dengan semi fixed cost. Biaya yang tergolong jenis ini misalnya: Sales expense atau komisi bagi salesman dimana komisi bagi salesman ini tetap untuk range atau volume tertentu, dan naik pada level yang lebih tinggi.



Sumber:
http://perkembangan-indonesia.blogspot.co.id/2013/10/artikel-tentang-manajmenen-modal-kerja.html
http://ranirizkynaamelya.blogspot.co.id/2013/06/makalah-manajemen-keuangan-analisis.html

ANALISIS SUMBER PENGGUNAAN MODAL KERJA DAN BREAK EVENT POINT

Analisis sumber dan penggunaan modal kerja atau sering disebut juga dengan analisis aliran dana, merupakan alat analisis finansial yang digunakan untuk mengetahui darimana dana didapatkan dan untuk apa dana tersebut dibelanjakan. Dengan demikian aliran dana dapat dikatakan sebagai dasar atau titik awal pembentukan suatu perusahaan hingga berlangsungnya suatu perusaahaan. Analisis sumber - sumber dan penggunaan modal kerja digunakan untuk mengetahui sumber serta penggunaan modal kerja selama periode tertentu. Modal kerja adalah keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan atau dapat pula dimadsukkan sebagai dana yang harus disediakan untuk membiayai kegiatan operasi sehari- hari. Modal kerja adalah suatu investasi perusahaan didalam aktiva jangka pendek seperti kas, sekuritas (surat-surat berharga), piutang dagang dan persediaan. Modal kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhadap jangka pendek. Dari kedua defenisi di atas, menunjukkan bahwa modal kerja adalah jumlah keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan dan yang dipergunakan juga untuk operasi perusahaan tersebut. Modal kerja didefinisikan sebagai aktiva lancar dikurangi kewajiban lancar. Jhon Fred Weston dan Thomas E.Copeland (1996 : 327) menjelaskan bahwa modal kerja merupakan investasi perusahaan dalam bentuk uang tunai, surat berharga, piutang dan persediaan, dikurangi dengan kewajiban lancar yang digunakan untuk membiayai aktiva lancar. Tujuan laporan perubahan modal kerja adalah memberikan ringkasan transaksi keuangan yang terjadi selama satu periode dengan menunjukan sumber dan penggunaan modal kerja dalam periode tersebut. Laporan perubahan modal kerja akan memberikan gambaran tentang bagaimana management mengelolah perputaran atau sirkulasi modalnya.
Sumber modal kerja terdiri dari dua pokok, yaitu:
a.Bagian yang tetap atau bagian yang permanen yaitu jumlah minimum yang harus tersedia agar perusahaan dapat berjalan dengan lancar tanpa kesulitan keuangan
b.Jumlah modal kerja yang variabel yang jumlahnya tergantung pada aktivitas musiman dan kebutuhan-kebutuhan diluar aktivitas yang biasa.

Sumber Modal Kerja
Pada umumnya sumber-sumber modal kerja berasal dari :
a. Pendapatan Bersih
Surat – surat berharga yang merupakan salah satu pos aktiva lancar dapat dijual dan dari penjualan tersebut akan timbul keuntungan. Penjualan surat berharga ini akan menyebabkan perubahan pos aktiva lancar dari pos-pos “surat-surat berharga” menjadi pos kas. Keuntungan yang diperoleh dari penjualan ini merupakan sumber dari modal kerja.
b. Penjualan Aktiva Tidak Lancar
Hasil penjualan aktiva tetap, investasi jangka panjang dan aktiva tidak lancar lainnya yang tidak diperlukan lagi oleh perusahaan merupakan sumber lain yang menambah modal kerja. Perubahan aktiva tidak lancar tersebut menjadi kas akan menambah modal kerja sebanyak hasil bersih penjualan aktiva tidak lancar tersebut
c. Penjualan Saham atau Obligasi
Untuk menambah dana atau modal kerja yang dibutuhkan, perusahaan dapat pula mengadakan emisi saham baru atau meminta pada para pemilik perusahaan untuk menambah modalnya.
d. Dana Pinjaman dari Bank
Dana pinjaman jangka pendek bagi perusahaan merupakan sumber penting dari aktiva lancarnya, terutama tambahan modal kerja yang diperlukan untuk membiayai kebutuhan modal kerja musiman siklus, darurat dan lain-lain.
e. Kredit dari Supplier
Material barang-barang, supplier dapat dibeli atau dengan wesel bayar. Apabila perusahaan kemudian dapat mengusahakan menjual barang dan menarik pembayaran piutang sebelum waktu hutang dilunasi, perusahaan tersebut memerlukan sejumlah kecil modal kerja.

Penggunaan Modal Kerja
Penggunaan modal kerja akan mengakibatkan perubahan bentuk maupun penurunan jumlah aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan, tetapi penggunaan aktiva lancar tidak selalu diikuti dengan berubahnya atau turunnya jumlah modal kerja yang dimiliki oleh perusahaan.
Penggunaan yang mengakibatkan turunnya modal kerja adalah sebagai berikut :
1)Pembayaran biaya atau ongkos-ongkos operasi perusahaan.
2)Kerugian-kerugian yang diderita oleh perusahaan karena adanya penjualan surat-surat berharga atau efek, maupun kerugian insidentil lainnya.
3)Adanya pembentukan dana atau pemisahan aktiva lancar untuk tujuan tertentu dalam jangka panjang.
4)Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap, investasi jangka panjang atau aktiva lancar lainnya yang mengakibatkan berkurangnya aktiva lancar atau timbulnya hutang lancar yang berakibat berkurangnya modal kerja.
5)Pembayaran hutang-hutang jangka panjang yang meliputi hutang hipotik, hutang obligasi maupun bentuk hutang lainnya, serta penarikan atau pembelian kembali saham perusahaan yang beredar, atau adanya penurunan hutang jangka panjang diimbangi dengan berkurangnya aktiva lancar.
6)Pengambilan uang atau barang dagangan oleh pemilik perusahaan untuk kepentingan pribadinya. Dengan kata lain adanya penurunan sektor modal yang diimbangi dengan berkurangnya aktiva lancar atau bertambahnya hutang lancar dalam jumlah yang sama.
Disamping penggunaan aktiva lancar yang mengakibatkan berkurangnya modal kerja tersebut, ada pula pemakaian aktiva lancar yang tidak merubah jumlahnya baik jumlah modal kerjanya maupun jumlah aktiva lancarnya itu sendiri, yaitu penggunaan modal kerja atau aktiva lancar yang hanya menyebabkan atau mengakibatkan berubahnya bentuk aktiva lancar (modal tidak berubah), misalnya: 
- Pembelian efek secara tunai.
- Pembelian barang dagangan atau bahan-bahan lainnya secara tunai.
- Perubahan suatu bentuk piutang kebentuk piutang lainnya.

Langkah-langkah Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja
Laporan tentang perubahan modal kerja akan memberikan gambaran tentang bagaimana manajemen mengelola perputaran atau sirkulasi modalnya. Laporan ini akan dapat memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan yang mungkin timbul baik dari pihak manajemen, para pemegang saham, kreditur, maupun pihak-pihak lainnya.
Adapun langkah-langkah dalam penyusunan laporan sumber dan penggunaan modal kerja menurut Bambang Riyanto (1995:355) adalah sebagai berikut :
1)Menyusun laporan perubahan modal kerja, laporan ini menggambarkan perubahan dari masing-masing unsur modal kerja antara dua titik waktu. Dengan laporan tersebut dapat diketahui adanya kenaikan atau penurunan modal kerja dan besarnya perubahan modal kerja.
2)Mengelompokan perubahan-perubahan dari unsur-unsur non current accounts antara dua titik waktu tersebut kedalam golongan yang mempunyai efek memperbesar modal kerja dan golongan yang mempunyai efek memperkecil modal kerja.
3)Mengelompokan unsur-unsur dalam laporan laba ditahan kedalam golongan yang perubahannya mempunyai efek memperbesar modal kerja dan golongan yang mempunyai efek memperkecil modal kerja.
4)Berdasarkan informasi diatas dapatlah disusun laporan sumber-sumber dan penggunaan modal kerja.

Contoh Kasus
PT. Ayu, Laporan Perubahan Modal Kerja periode 31 Desember 1980 – 31 Desember 1981 (dalam ribuan rupiah)

di atas  menunjukan bahwa modal kerja PT. ayu pada tahun 1981 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya sebesar Rp.400,00 yang berasal dari bertambahnya kas Rp.100,00 dan barang (inventory) Rp.400,00, serta berkurangnya hutang perniagaan sebesar Rp.500,-, yang dikuti berkurangnya efek dan piutang masing-masing Rp.200,00, serta bertambahnya hutang wesel sebesar Rp.200,00.
PT. Ayu, Laporan Sumber dan Penggunaan Modal Kerja periode 31 Desember 1980-31 Desember 1981 (dalam ribuan rupiah).



di atas menunjukan sumber-sumber modal kerja pada PT. ayu berasal dari keuntungan neto, depresiasi dan bertambahnya utang jangka panjang, dimana penggunaan modal kerjanya adalah pembagian deviden, penambahan mesin, pembelian tanah dan sisanya sebagai tambahan modal kerja.


Break Event Point
Break event point adalah suatu keadaan dimana dalam suatu operasi perusahaan tidak mendapat untung maupun rugi / impas (penghasilan = total biaya). Sebelum memproduksi suatu produk, perusahaan terlebih dulu merencanakan seberapa besar laba yang diinginkan. Ketika menjalankan usaha maka tentunya akan mengeluarkan biaya produksi, maka dengan analisis titik impas dapat diketahui pada waktu dan tingkat harga berapa penjualan yang dilakukan tidak menjadikan usaha tersebut rugi dan mampu menetapkan penjualan dengan harga yang bersaing pula tanpa melupakan laba yang diinginkan. Hal tersebut dikarenakan biaya produksi sangat berpengaruh terhadap harga jual dan begitu pula sebaliknya, sehingga dengan penentuan titik impas tersebut dapat diketahui jumlah barang dan harga yang pada penjualan. Analisis break event sering digunakan dalam hal yang lain misalnya dalam analisis laporan keuangan.

Fungsi Analisis BEP
Rumus analisis break even point (analisis balik modal) digunakan untuk menentukan hal-hal seperti:
 a) Jumlah penjualan minimum yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugian. Jumlah penjualan minimum ini berarti juga jumlah produksi minimum yang harus dibuat.
b) Jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh laba yang telah direncanakan atau dapat diartikan bahwa tingkat produksi harus ditetapkan untuk memperoleh laba tersebut.
c) Mengukur dan menjaga agar penjualan dan tingkat produksi tidak lebih kecil dari BEP.
d) Menganalisis perubahan harga jual, harga pokok dan besarnya hasil penjualan atau tingkat produksi. Sehingga analisis terhadap BEP merupakan suatu alat perencanaan penjualan dan sekaligus perencanaan tingkat produksi, agar perusahaan secara minimal tidak mengalami kerugian. Selanjutnya karena harus memperoleh keuntungan berarti perusahaan harus berproduksi di atas BEP-nya.

Rumus BEP (Break Even Point)
Berikut beberapa model rumus BEP yang dapat digunakan dalam analisis Break Even Point :
1)  Pendekatan Matematis
Rumus BEP yang pertama adalah menghitung  break  even  point  yang  harus  diketahui adalah jumlah total biaya tetap, biaya  variabel  per  unit  atau  total  variabel,  hasil  penjualan total atau harga jual per unit. Rumus  yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:
1. Break event point dalam unit


Keterangan :
BEP : Break Even Point         FC : Fixed Cost          VC : Variabel Cost                
P : Price per unit                      S : Sales Volume

2. Break event point dalam rupiah



Kelemahan Penggunaan BEP
Dalam pemakaian analisis ini kita harus menyadari keterbatasan yang dikandung model ini. Kelemahan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Asumsi yang menyebutkan harga jual konstan padahal kenyataannya harga ini berubah sesuai dengan kekuatan permintaan dan penwaran di pasar
2. Asumsi terhadap cost
Dalam keadaan tertentu untuk memenuhi volume penjualan, biaya tetap mau tidak mau harus berubah karena pembelian mesin-mesin atau peralatan baru guna meningkatkan volume produksi untuk penjualan
3. Jenis barang yang dijual tidak selalu satu jenis
4. Biaya tetap juga tidak selalu tetap pada berbagai kapasitas
5. Biaya variable juga tidak selalu berubah sejajar dengan perubahan volume penjualan.




Sumber:
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=119905&val=5490
http://frenkymay.blogspot.co.id/2011/06/analisis-sumber-dan-penggunaan-modal.html
http://melga93.blogspot.co.id/2014/05/analisa-sumber-dan-penggunaan-modal.html
http://sitipuryandani.blogspot.co.id/2013/04/materi-alk-analisis-sumber-dan.html
https://kurniawanbudi04.wordpress.com/2013/01/15/konsep-dasar-analisis-laporan-keuangan/
http://www.bisnisrumahanpemula.com/rumus-bep/
http://sulistyo-widodo.blogspot.co.id/2012/04/pengertian-analisis-titik-impas-break.html
http://nichonotes.blogspot.co.id/2015/02/analisa-break-even-point-pengertian.html

Sabtu, 09 April 2016

ANALISIS RATIO KEUANGAN

Halim et al. (2011) menyebutkan rasio keuangan merupakan ukuran statistik terkait dengan dua angka dari laporan laba rugi, neraca, atau keduanya. Analisis rasio keuangan dapat dilakukan untuk tiga tujuan
1. Sebagai alat analisis untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan suatu perusahaan dimaksudkan untuk mengakses kelangsungan hidup (viability) dan menentukan apakah return yang memuaskan akan dihasilkan dari pengambilan risiko
2. sebagai alat monitoring untuk meyakinkan bahwa tujuan perusahaan adalah sesuai dengan sumberdayanya
3. sebagai alat yang efektif untuk perencanaan pencapaian tujuan perusahaan.
Rasio Keuangan dapat dikategorikan sebagai berikut:
a. Rasio likuiditas (liquidity ratios) (contoh: current ratio, solvency ratio): digunakan untuk
mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban (obligation) jangka
pendeknya dan menentukan waktu serta cakupan tindakan yang diperlukan.
b. Rasio profitabilitas (profitability ratios) (contoh: profit margin, return on assets, return on
equity, and earnings per share): digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian
(return) investasi perusahaan atau laba dari operasi.
c. Rasio aktivitas (activity ratios) (contoh: assets turnover and stock turnover). Digunakan
untuk mengindikasikan seberapa efektif penggunaan dan pembagian aset perusahaan
serta berapa kali dalam setahun persediaan dihabiskan.
d. Rasio pengungkit (leverage ratios) (contoh: gearing and interest cover): digunakan untuk
mengindikasi pengembangan yang diekspos perusahaan atas risiko keuangannya.
Tujuan Analisis Rasio Keuangan
Wild (205, p. 36) mengemukakan bahwa terdapat beberapa keunggulan dalam analisis laporan keuangan, antara lain :
1.    Melalui perhitungan rasio keuangan diharapkan agar informasi yang terkandung di dalam laporan keuangan lebih mudah dibaca dan ditafsirkan.
2.    Lebih memudahkan untuk mengetahui posisi perusahaan di tengah industri lain.
3.    Sebagai bahan dalam pengambilan keputusan dan model prediksi.
4.    Mengukur standar perusahaan.
5.    Lebih mudah membandingkan perusahaan dengan perusahaan lain, atau melihat perkembangan perusahaan secara periodik.
6.    Lebih memudahkan perusahaan dalam melakukan prediksi di masa yang akan datang.
Keunggulan Analisis Rasio Keuangan

Harahap (2008, p. 298) berpendapat bahwa rasio keuangan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain :
1.    Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca dan ditafsirkan
2.    Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan laporan keuangan yang sangat rinci dan rumit
3.    Mengetahui posisi perusahaan di tengah industri lain
4.    Sangat bermanfaat untuk bahan dalam model-model pengambilan keputusan
5.    Lebih mudah memperbandingkan perusahaan dengan perusahaan lain atau melihat perkembangan perusahaan secara periodik
6.    Lebih mudah melihat trend serta melakukan prediksi di masa yang akan datang.

Macam-macam Rasio Keuangan
Beberapa tinjauan terhadap hubungan kuantitatif rasio keuangan:
Dilihat dari sumbernya  rasio dibagi menjadi 3:
1.       Rasio-Rasio Neraca
Adalah rasio-rasio yg disusun dari data yg berasal dari neraca misalnya;  current ratio, Acid test-ratio, , current assets to total assets ratio, current lialibilities to total assets ratio dan lain sebagainya.
2.       Rasio Statemen Rugi-Laba
Rasio-rasio yang disusun berdasarkan income statements, misalnya gross profit margin, net operating margin, operating ratio, dan lain sebagainya.
3.       Rasio-Rasio Antar Statemen Keuangan
Adalah rasio keuangan yang disusun berdasarkan Neraca dan data lainnya yg berasal dari income statement, misalnya assets turnover, inventory turnover, receivables  turnover dan sebagainya.




Sumber
http://dewiasmaranii.blogspot.co.id/2014/12/analisis-laporan-keuangan.html
http://www.agus.byethost13.com/materi/alk/2012_mujilan_ALK_ed1.pdf?ckattempt=1

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

Menurut PSAK No.1 (2012, p. 1-2), laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan, yang dapat disajikan dalam berbagai cara seperti, misalnya sebagai laporan arus kas atau laporan arus dana, catatan dan laporan lain, serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Di samping itu juga termasuk skedul dan informasi tambahan yang berkaitan dengan laporan tersebut, misalnya informasi keuangan segmen industri dan geografis serta pengungkapan pengaruh perubahan harga. Analasis laporan keuangan digunakan untuk membantu mengatasi kesenjangan tersebut dengan cara mengolah kembali laporan keuangan sehingga dapat membantu para pengambil keputusan melakukan prediksi-prediksi yang akan terjadi dengan analisis tersebut.

Tujuan dan Manfaat Laporan Keuangan
Menurut PSAK No. 1 dalam Ikatan Akuntan Indonesia (2009:1.2), tujuan laporan keuangan untuk tujuan umum “Memberikan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka”.
Menurut Dwi Prastowo dan Rifka Julianty (2005:5), tujuan laporan keuangan adalah sebagai berikut :
1) Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja dan perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
2) Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja dan perubahan posisi keuangan sangat diperlukan untuk dapat melakukan evaluasi atas kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas (setara kas), dan waktu serta kepastian dari hasil tersebut.
3) Menyediakan informasi kinerja perusahaan, terutama profitabilitas diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumberdaya ekonomi yang mungkin dikendalikan di masa depan, sehingga dapat memprediksi kapasitas perusahaan dalam menghasilkan kas serta untuk merumuskan efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan tambahan sumber daya.
4) Menyediakan informasi perubahan posisi keuangan perusahaan bermanfaat untuk menilai aktivitas investasi, pendanaan dan operasi perusahaan selama periode pelaporan.

Komponen-Komponen Laporan Keuangan
PSAK No. 1 (2012, p. 6) menyatakan bahwa laporan keuangan yang lengkap yang disusun oleh manajemen suatu perusahaan harus meliputi komponen-komponen berikut ini:
1.    Neraca
Menurut PSAK No. 1 (2012, p. ) laporan posisi keuangan adalah suatu laporan yang sistematis tentang aktiva (assets), hutang (liabilities) dan modal sendiri (owner’s equity).
Soemarso (2004, p. 34) menjelaskan bahwa neraca merupakan laporan keuangan yang berisi mengenai jumlah harta (assets), kewajiban (liability), dan modal (owner’s equity) pada akhir periode akuntansi. Neraca dapat memberi informasi tentang sumber-sumber daya yang dimiliki perusahaan dan sumber pembelanjaan untuk memperolehnya. Laporan ini menyajikan posisi keuangan perusahaan.
2.    Laporan Laba Rugi Komprehensif
Menurut PSAK No.1 (2012, p. ) laporan laba rugi komprehensif merupakan suatu laporan sistematis yang menyajikan seluruh pos pendapatan dan beban yang diakui dalam satu periode. Laporan laba rugi komprehensif perusahaan disajikan sedemikian rupa yang menggambarkan berbagai unsure kinerja keuangan selama suatu periode tertentu.
Kasmir (2011, p. 29), mengungkapkan bahwa laporan laba rugi merupakan laporan keuangan yang menggambarkan hasil usaha perusahaan dalam suatu periode tertentu. Laporan laba rugi ini merupakan ringkasan yang logis dari hasil penghasilan dan biaya dari suatu perusahaan untuk periode tertentu. Laba bersih yang dihasilkan dari perhitungan laporan laba rugi merupakan selisih total penerimaan atas total pengeluaran. Jika total pengeluaran lebih besar dari total penerimaan, maka perusahaan akan melaporkan sebagai rugi bersih yang dapat mengurangi modal awal. Begitu juga sebaliknya, jika total penerimaan perusahaan lebih besar daripada total pengeluaran, maka perusahaan akan melaporkannya sebagai laba bersih yang dapat menambah modal awal perusahaan.
3.    Laporan Arus Kas
Menurut Baridwan (2004, p. 40) laporan arus kas adalah laporan yang menyajikan informasi yang relevan tentang penerimaan dan pengeluaran kas yang berasal dari kegiatan investasi, pembelanjaan, dan kegiatan usaha pada suatu periode.
Arus kas dari aktivitas operasi merupakan arus kas yang langsung berhubungan dengan laba, seperti penerimaan kas dari pelanggan dan pembayaran gaji karyawan perusahaan. Arus kas yang berasal dari aktivitas investasi mencakup arus kas yang terkait dengan akuisisi atau penjualan aset produktif perusahaan, seperti pembelian dan penjualan aset tetap perusahaan. Arus kas pendanaan merupakan arus kas yang berhubungan langsung dengan pendanaan perusahaan, seperti penerimaan dan pembayaran utang kepada investor dan kreditor.
4.    Laporan Perubahan Ekuitas
Soemarso (2004, p. 54). mengungkapkan bahwa laporan perubahan ekuitas  adalah ikhtisar tentang perubahan modal suatu perusahaan yang terjadi selama jangka waktu tertentu. Laporan perubahan modal melaporkan bagaimana laba bersih dan dividen mempengaruhi posisi laporan keuangan perusahaan dalam suatu periode akuntansi. Laba bersih yang diperoleh setiap tahun akan meningkatkan saldo laba ditahan, sedangkan pembagian dividen kepada pemegang saham akan mengurangi saldo laba ditahan. Proses meningkat dan mengurangnya saldo laba ditahan ini menunjukkan hubungan antara laporan laba rugi dengan neraca, di mana saldo laba ditahan pada akhir periode akan dibawa ke saldo awal laba ditahan pada tahun berikutnya.
5.    Catatan atas Laporan Keuangan
PSAK No.1 (2012, p. 8) menjelaskan bahwa suatu catatan atas laporan keuangan adalah catatan yang disajikan secara sistematis untuk menghasilkan informasi dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan serta memberikan informasi yang relevan untuk memahami laporan keuangan.
Menurut Kasmir (2011, p. 31) laporan catatan atas laporan keuangan merupakan laporan yang memberikan informasi apabila ada laporan keuangan yang memerlukan penjelasan tertentu. Artinya terkadang ada komponen atau nilai dalam laporan keuangan yang perlu diberi penjelasan terlebih dahulu sehingga jelas. Hal ini dilakukan agar pihak-pihak yang berkepentingan tidak salah dalam menafsirkannya.

Keterbatasan Analisis Laporan Keuangan
Hanafi (2009, p. 78) mengutarakan bahwa meskipun analisis laporan keuangan sangat bermanfaat, tetapi ada beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan, antara lain:
1.    Data yang mencatat dan dilaporkan oleh laporan keuangan mendasarkan pada harga perolehan.
2.    Upaya perbaikan barangkali bisa dilakukan oleh pihak manajemen untuk memperbaiki laporan keuangan sehingga laporan keuangan tampak bagus.
3.    Banyak perusahaan yang mempunyai beberapa divisi atau anak perusahaan yang bergerak pada beberapa bidang usaha (industri), yang mengakibatkan analis susah dalam memilih pembanding perusahaan dikarenakan perusahaan tersebut bergerak pada beberapa industri.
4.    Inflasi atau deflasi akan mempengaruhi laporan keuangan terutama yang berkaitan dengan rekening-rekening jangka panjang seperti investasi jangka panjang.
5.    Rata-rata industri merupakan rata-rata perusahaan yang ada dalam industri. Ada beberapa perusahaan yang tidak bagus yang dipakai dalam perhitungan rata-rata industri. Perusahaan yang ingin sukses biasanya harus berada di atas rata-rata rasio industri, bukannya sama dengan rata-rata industri. Begitu juga sebaliknya, angka yang lebih rendah dibandingkan rata-rata industri juga tidak selalu berarti jelek. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum menentukan baik buruknya suatu angka.

Metode dan Teknik Analisis Laporan Keuangan
S. Munawir (2007:36) mengatakan ada dua metode yang digunakan oleh setiap penganalisis laporan keuangan, yaitu :
a) Metode Analisa Horizontal
Yaitu analisa dengan mengadakan perbandingan laporan keuangan untuk beberapa periode atau beberapa saat, sehingga akan diketahui perkembangannya.
b) Metode Analisa Vertikal Yaitu apabila laporan keuangan yang dianalisa hanya meliputi satu periode atau satu saat saja, yaitu dengan memperbandingkan antara pos yang satu dengan pos yang lainnya dalam laporan keuangan tersebut, sehingga hanya akan diketahui keadaan keuangan atau hasil operasi pada saat itu saja.
Sedangkan teknik analisis yang biasa digunakan dalam analisis laporan keuangan adalah sebagai berikut :
1) Analisa Perbandingan Laporan Keuangan, adalah metode dan teknik analisa dengan cara memperbandingkan laporan keuangan untuk dua periode atau lebih.
2) Trend atau tendesi posisi dan kemajuan keuangan perusahaan yang dinyatakan dalam prosentase adalah suatu metode atau teknik analisa untuk mengetahui tendensi daripada keadaan keuangannya, apakah menunjukkan tendensi tetap, naik atau bahkan turun.
3) Laporan dengan prosentase per komponen atau common size statement adalah satu metode analisa untuk mengetahui prosentase investasi pada masing-masing aktiva terhadap total aktivanya, juga untuk mengetahui struktur permodalannya dan komposisi perongkosannya yang terjadi dihubungkan dengan jumlah penjualannya.
4) Analisa Sumber dan Penggunaan Modal Kerja adalah suatu analisa untuk mengetahui sumber-sumber serta penggunaan modal kerja atau untuk mengetahui sebab-sebab berubahnya modal kerjan dalam periode tertentu.
5) Analisa Sumber dan Penggunaan Kas adalah suatu analisa untuk mengetahui sebab-sebab berubahnya jumlah uang kas atau untuk mengetahui sumber-sumber serta penggunaan kas selama periode tertentu.
6) Analisa ratio adalah suatu metode analisa untuk mengetahui hubungan dari pos-pos tertentu dalam neraca atau laporan rugi laba secara individu atau kombinasi dari kedua laporan tersebut.
7) Analisa Perubahan Laba Kotor adalah suatu analisa untuk mengetahui sebab-sebab perubahan laba kotor suatu perusahaan dari periode ke periode yang lain atau perubahan laba kotor suatu periode dengan laba yang dibudgetkan untuk periode tersebut.
8) Analisa Break Even adalah suatu analisa untuk menentukan tingkat penjualan yang harus dicapai oleh suatu perusahaan tersebur tidak menderita kerugian, tetapi juga belum memperoleh keuntungan.

Contoh Kasus
Berikut adalah contoh Analisa Likuiditas, Solvabilitas, dan Rentabilitas Laporan Keuangan “PT. GUDANG GARAM Tbk.”
1.    LIKUIDITAS PERUSAHAAN
a.      Current Ratio
Current Ratio = (Aktiva Lancar/Kewajiban Lancar) x 100%
Tahun 2008
Current Ratio = (17.955.845/9.437.259) x 100% = 1,9%
Tahun 2007
Current Ratio = (Rp. 15.027.032/) x 100% = 1,95%
b.      Quick Ratio/Acid Test Ratio
Quick Ratio = ((Aktiva Lancar – Persediaan)/Kewajiban Lancar)) x 100%
Tahun 2008
Quick Ratio = ((Rp.17.955.845-Rp.14.016.039)/ Rp.9.437.259)) x 100% = 0,41%
Tahun 2007
Quick Ratio = ((Rp.15.027.032-Rp. 11.877.086)/ Rp.7.697.918)) x 100% = 0,40%
c.       Cash Ratio
Cash Ratio = (Kas/Kewajiban Lancar) x 100%
Tahun 2008
Cash Ratio = (Rp. 411.689/ Rp.9.437.259) x 100% = 0,043%
Tahun 2007
Cash Ratio = (Rp. 289.152/ Rp. 7.697.918) x 100% = 0,037%
2.      PERPUTARAN PIUTANG
Cara perhitungan perputaran piutang dapat dilakukan dengan rumus :
Perputaran Piutang = (Penjualan Kredit/Utang Usaha) x 100%
Tahun 2008
Perputaran Piutang = (Rp.15.056.347/ Rp.200.266) x 100% = 75,1%
Tahun 2007
Perputaran Piutang = (Rp.13.419.733/ Rp.  128.837) x 100% = 104,1%
3.      SOLVABILITAS PERUSAHAAN
Tingkat   solvabilitas  diukur  dengan beberapa   rasio,  yaitu :
a.      Total Debt to Equity Ratio
Total Debt Equty Ratio = (Total Utang/Ekuitas) x 100%
Tahun 2008
Perputaran Piutang = (Rp.10.359.076/ Rp.14.530.132) x 100% = 0,71%
Tahun 2007
Perputaran Piutang = (Rp.8.474.564/ Rp.13.386.776) x 100% = 0,63%
b.      Total Debt to Asset Ratio
Total Debt to Asset Ratio = (Total Utang/Total Aktiva) x 100%
Tahun 2008
Total Debt to Asset Ratio = (Rp.10.359.076/ Rp.20.904.022) x 100% = 0,49%
Tahun 2007
Total Debt to Asset Ratio = (Rp.8.474.564/ Rp.21.878.013) x 100% = 0,38%
4.      RENTABILITAS PERUSAHAAN
Adapun  cara penilaian  Rentabilitas  adalah :
a.       Gross Provit Margin (Margin Laba Kotor)
Rumus :
GPM = (Laba Kotor/Penjualan Bersih) x 100%
Tahun 2008
GPM = (Rp.2.427.250/ Rp.15.056.347) x 100% = 0,16%
Tahun 2007
GPM = (Rp.2.485.648/ Rp.13.419.733) x 100% = 0,18%
b.      Net Profit Margin (Margin Laba Besih)
Rumus :
NPM = (Laba Setelah Pajak/Total Aktiva) x 100%
Tahun 2008
NPM = (Rp.891.358/ Rp.24.904.022) x 100% = 0,035%
Tahun 2007
NPM = (Rp.710.565/ Rp.21.878.013) x 100% = 0,032%
c.       Earning Power of Total Investment
Rumus :
EPTI = (Laba Sebelum Pajak/Ekuitas) x 100%
Tahun 2008
EPTI = (Rp.1.313.392/ Rp.14.530.132) x 100% = 0,09%
Tahun 2007
EPTI = (Rp.1.084.495/ Rp.13.386.776) x 100% = 0,08%
d.      Return On Equity (Pengembalian Atas Equitas)
Rumus :
ROE = (Laba Setelah Pajak/Ekuitas) x 100%
Tahun 2008
ROE = (Rp. 891.358/Rp. 14.530.132) x 100% = 0,61%
Tahun 2007
ROE = (Rp.710.565/ Rp.13.386.776) x 100% = 0,3%






Sumber
https://www.scribd.com/doc/286335663/Analisis-Laporan-Keuangan
http://dewiasmaranii.blogspot.co.id/2014/12/analisis-laporan-keuangan.html