PEMANFAATAN TEKNOLOGI
INFORMASI TERHADAP PT. CHEVRON
Sistem Informasi (SI) adalah kombinasi dari teknologi
informasi dan aktivitas orang yang menggunakan teknologi itu untuk mendukung
operasi dan manajemen. Dalam arti yang sangat luas, istilah sistem informasi
yang sering digunakan merujuk kepada interaksi antara orang, proses algoritmik,
data, dan teknologi. Dalam pengertian ini, istilah ini digunakan untuk merujuk
tidak hanya pada penggunaan organisasi teknologi informasi dan komunikasi
(TIK), tetapi juga untuk cara di mana orang berinteraksi dengan teknologi ini
dalam mendukung proses bisnis. Manfaat sistem informasi untuk perusahaan diantaranya:
1. Meningkatkan
Efisiensi Operasional
Investasi di dalam teknologi sistem informasi dapat menolong
operasi perusahaan menjadi lebih efisien. Efisiensi operasional membuat
perusahaan dapat menjalankan strategi keunggulan biaya low-cost leadership. Dengan
menanamkan investasi pada teknologi sistem informasi, perusahaan juga dapat
menanamkan rintangan untuk memasuki industri tersebut (barriers to entry)
dengan jalan meningkatkan besarnya investasi atau kerumitan teknologi yang
diperlukan untuk memasuki persaingan pasar. Selain itu, cara lain yang dapat
ditempuh adalah mengikat (lock in) konsumen dan pemasok dengan cara membangun
hubungan baru yang lebih bernilai dengan mereka.
2. Memperkenalkan
Inovasi Dalam Bisnis
Penggunaan ATM. automated teller machine dalam perbankan
merupakan contoh yang baik dari inovasi teknologi sistem informasi. Dengan
adanya ATM, bank-bank besar dapat memperoleh keuntungan strategis melebihi
pesaing mereka yang berlangsung beberapa tahun. Penekanan utama dalam sistem
informasi strategis adalah membangun biaya pertukaran (switching costs) ke
dalam hubungan antara perusahaan dengan konsumen atau pemasoknya. Sebuah contoh
yang bagus dari hal ini adalah sistem reservasi penerbangan terkomputerisasi
yang ditawarkan kepada agen perjalanan oleh perusahaan penerbangan besar. Bila
sebuah agen perjalanan telah menjalankan sistem reservasi terkomputerisasi
tersebut, maka mereka akan segan untuk menggunakan sistem reservasi dari
penerbangan lain.
3. Membangun
Sumber-Sumber Informasi Strategis
Teknologi sistem informasi memampukan perusahaan untuk
membangun sumber informasi strategis sehingga mendapat kesempatan dalam
keuntungan strategis. Hal ini berarti memperoleh perangkat keras dan perangkat
lunak, mengembangkan jaringan telekomunikasi, menyewa spesialis sistem
informasi, dan melatih end users.
Contoh perusahaan yang menggunakan teknolog informasi untuk
membantu operasional perusahaan adalah PT. Chevron, dimana mengelola di bidang eksplorasi dan produksi
energi Indonesia dimulai pada tahun 1924, ketika Standard Oil Company of
California (Socal), kini Chevron, mengirimkan ekspedisi geologi ke Pulau
Sumatera.Sejak itu, selama lebih dari setengah abad, Chevron telah menjadi
produsen minyak mentah dan panas bumi terbesar di Indonesia dengan total
rata-rata produksi sebesar 442.000 barel fluida per hari pada tahun 2011. Total
rata-rata produksi harian gas alam adalah 636 juta kaki kubik.
Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan
telekomunikasi dan mengarah kepada kompetitor global, PT Chevron Pacific
Indonesia (CPI) memiliki dan menerapkan teknologi informasi untuk proses
pengadaan barang dan jasa (e-procurement) untuk memenuhi kebutuhan operasinya.
CPI adalah perusahaan minyak dan gas Indonesia yang pertama kali menerapkan
modul buyer, disamping modul sourcing, contract dan modul analisis dengan
memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk meningkat kemampuan mengolah,
mengelola, menyalurkan dan mendistribusikan informasi ke publik. Kajian
penerapan teknologi informasi di PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) bertujuan
untuk mengetahui sejauh mana penerapannya bermanfaat bagi publik. Untuk menilai
kinerja sistem, perlu ditentukan stakeholder terkait, kriteria penilaian dan
indikator yang dinilai. Penerapan teknologi antara lain harus memenuhi kriteria
tepat guna (user friendly), hemat biaya (cost saving), hemat waktu (reduce
cycle time), serta memiliki infrastruktur yang memadai. Sedangkan sebagai
Perusahaan Kontraktor Kerjasama bagi hasil (KKKS) harus memenuhi rasa keadilan
dan transparansi, serta sesuai hukum atau perundangan yang berlaku. Pembahasan
dan analisa dilakukan secara statistik deskriptif terhadap kuesioner yang
didistribusikan secara purposif sampling. Analisis kualitatif juga dilakukan
terhadap jawaban terbuka kuesioner dan hasil wawancara terhadap pimpinan
tertinggi Supply Chain Management (SCM) Chevron di Indonesia dan staf BPMIGAS.
Penerapan teknologi informasi untuk pengadaan barang dan
jasa sangat diperlukan untuk meningkatkan proses pengadaan menjadi lebih
efesien, efektif, transparan dan dan akuntable. Ketiadaan kebijakan pemerintah
dalam penerapan teknologi informasi, ketidakefisienan pengambil keputusan,
inkonsistensi aparat pemerintahaan adalah bagian dari kegagalan pemerintah.
Penyelesaian masalah dilakukan dengan berbagai alternatif kebijakan diantaranya
memanfaaatkan gagasan standarisasi secara horisontal melalui sharing contract
sesama Kontraktor KKS.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar